Artikel
Menolak Pemberian karena “Gak Enak”? Hati-hati Mental Block Rezeki Sejak Kecil
Beberapa waktu yang lalu, aku membantu beberapa orang menjadi narasumber untuk menyelesaikan tugas mereka. Setelah semuanya selesai, mereka menawarkan sejumlah uang sebagai wujud rasa terima kasih atas bantuan yang telah kuberikan.
Awalnya, aku berpikir untuk menolak pemberian tersebut. Namun, aku teringat pada pelajaran yang kudapatkan dalam coaching manifestasi. Dalam pelajaran itu dijelaskan bahwa ketika rezeki yang sudah diniatkan untuk diberikan kepada kita ditolak, energi rezeki tersebut akan kembali ke alam semesta dan menjadi rezeki tak bertuan. Rezeki itu kemudian dapat diakses oleh orang lain yang mampu menjangkaunya. Sementara itu, wadah dalam diri kita untuk menerima rezeki semakin mengecil setiap kali kita menolak pemberian dari orang lain.
Aku pun memutuskan untuk menerima pemberian mereka dengan sukacita dan menghargai niat baik mereka. Beberapa waktu kemudian, tanpa kusangka, aku mendapatkan rezeki yang jumlahnya jauh lebih besar lagi.
Pengalaman ini membuatku teringat pada satu hal penting dalam manifestasi keberlimpahan: hambatan dalam menerima rezeki dapat berkaitan dengan program yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar sejak masa kecil.
Sebagai contoh, ketika masih kecil, setiap kali seseorang memberikan sesuatu, kita mungkin sering mendengar orang tua berkata, “Enggak usah, enggak usah, repot-repot.” Kalimat tersebut biasanya diucapkan sebagai bentuk kesopanan. Namun, ketika respons itu terus berulang, anak dapat terbiasa menganggap bahwa menolak pemberian merupakan sikap yang seharusnya dilakukan.
Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Ketika seseorang menawarkan hadiah atau memberikan uang sebagai ungkapan terima kasih, kita secara spontan menolak karena merasa tidak enak hati. Pola yang terbentuk melalui pengalaman berulang seperti ini dapat menjadi mental block yang menghambat kapasitas kita untuk menerima keberlimpahan.
Karena itu, ketika memanifestasikan keberlimpahan, kita perlu mengevaluasi keyakinan yang selama ini memengaruhi cara kita menerima. Menerima pemberian berbeda dengan meminta pemberian. Kita menghargai niat baik seseorang yang memberikan sesuatu atas kehendaknya sendiri, tanpa menuntut orang lain memberikan sesuatu kepada kita.
Belajar menerima pemberian dengan sukacita dapat menjadi langkah untuk mengubah kebiasaan lama yang membatasi kapasitas diri dalam menerima rezeki.
Bagikan artikel ini
Pilih aplikasinya: WhatsApp, pesan, surel, atau lainnya.